Boleh Memberi Isyarat, Bukan Berjabat Tangan

oleh: AISHAH Center - 2023-07-03 10:03:29 | Dilihat 594 kali

Boleh Memberi Isyarat, Bukan Berjabat Tangan 
 
(Mengucapkan salam kepada lawan jenis)
 
عَنْ أَسْمَاءَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مَرَّ فِي مَسْجِدٍ وَعُصْبَةٍ مِنَ النِّسَاءِ قَعُوْدٍ فَقَالَ بِيَدِهِ إِلَيْهِمْ بِالسَّلاَمِ، فَقَالَ: بِالسَّلاَمِ، فَقَالَ: إِيَّاكُنَّ وَكُفْرَانَ الْمُنْعِمِيْنَ، إِيَّاكُنَّ وَكُفْرَانَ الْمُنْعِمِيْنَ
 
Dari Asmaa', bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah lewat di masjid yang ketika itu sebagian kaum wanita sedang duduk-duduk, maka Beliau berisyarat dengan tangannya dan mengucapkan salam, Beliau bersabda, "Jauhilah berbuat kufur (tidak berterima kasih) kepada orang-orang yang memberi nikmat (suami), Jauhilah berbuat kufur kepada orang-orang yang memberi nikmat." (HR Bukhari dalam Al Adabul Mufrad, Ahmad 27042, Silsilah Ash-Shahihah 823]
 
Al-Arba'un An-Nisaiyyah, hadits ke-18
 
*◉ ═══ ༻❀○❁○❀༺ ═══ ◉*
 
Interaksi dengan lawan jenis dalam Islam memang tidak bisa sembarangan, ada aturan dan batasannya. Meskipun demikian, seorang muslim juga dituntut untuk bersosialisasi dengan baik, tidak individualistis, apalagi egois. 
 
Karena itu ketika Islam melarang jabat tangan dengan lawan jenis, syariat tetap membolehkan bentuk interaksi lain jika itu perkara penting atau dibutuhkan, misalnya tegur sapa, saling ucap dan balas salam, amar ma’ruf nahi mungkar, dsb.
 
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mencontohkan pada kita semua tentang interaksi tersebut, tatkala melintasi para shahabiyah -radhiallahu ‘anhunna- beliau memberikan isyarat dengan tangannya (seperti melambaikan tangan) dan menyampaikan ilmu kepada mereka tentang larangan kufur pada orang yang memberi nikmat.
 
Kufur kepada orang yang memberi nikmat contohnya adalah ucapan istri kepada suaminya: "Demi Allah, saya belum pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu (diucapkan saat suami salah di matanya, dengan melupakan segala pemberiannya)."
 
Semoga Alloh memberikan kemudahan bagi kita untuk saling menasehati dan membatasi interaksi, serta kemudahan bagi para wanita untuk mensyukuri apa yang ada dalam diri sang suami.
 
(Ustadz Rosyid Abu Rosyidah)
 
Jangan lupa like, komen, dan share